He Is Not Pinky Prince [Five]

HE-IS-NOT-PINKY-PRINCE7

 

Author : SooCobyDoo

Cast      : Choi Sooyoung (Man), Hwang Tiffany, Kwon Yuri

 

Setelah megantarkan Sulli dan Tiffany pulang, Sooyoung pun kembali ke apartemennya. Lalu ia merebahkan badannya diatas sofa sambil memandangi langit-langit ruang tamunya. Dan ia teringat ucapan Tiffany..

“Kau pelit tapi kau membuatku menyukaimu.”

“Bagaimana bisa dia menyukaiku? bahkan kita saja baru bertemu hari ini. Dia memang aneh, wanita yang aneh.” Ucapnya.

‘Dulu, untuk membuat Yuri menyukaiku saja aku butuh waktu berbulan-bulan. Mengapa Tiffany bisa menyukaiku dalam waktu secepat ini?’ Sooyoung pikir.

“Yuri..” Gumamnya.

Sooyoung kembali teringat oleh Yuri, wanita yang selalu ada disetiap hari-harinya dulu. Wanita yang selalu membuatnya tersenyum dan bahagia. Wajah cantik Yuri sekarang hanya bisa ia lihat dari foto dan di dalam mimpinya saja. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan memandangi wallpaper ponselnya, wallpapernya adalah foto dirinya dan Yuri yang sedang tersenyum sangat bahagia.

“Lihatlah.. dulu kita adalah pasangan yang sangat bahagia di dunia ini. Dan.. kau adalah wanita tercantik yang pernah ada di dalam hidupku, Yuri.” Gumamnya sambil memandangi wallpaper ponselnya.

Lalu Sooyoung teringat dengan sosok Tiffany lagi..

“Tapi.. kalau aku perhatikan, Tiffany juga cantik.” Ucap Sooyoung pada dirinya sendiri.

“Ah tidak tidak tidak! Yuri lebih cantik!” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.

“Yuri bahkan memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya, Yuri juga tidak aneh seperti dia. Yuri juga tidak terobsesi oleh warna pink dan tidak pernah bilang bahwa aku pelit (tentu saja Sooyoung tidak pernah pelit pada Yuri.) Jadi, Yuri tetap nomer satu bagiku.” Ucapnya dengan bangga membandingkan Yuri dengan Tiffany.

‘Kenapa aku jadi memikirkannya dan membandingkannya dengan Yuri?’ Sooyoung pikir.

“Aaaaaah!” teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Frustasi dengan yang ia pikirkan.

Ia pun bangun dari sofa dan berjalan menuju komputernya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.

“Dari pada aku memikirkan wanita yang terobsesi dengan pink itu, lebih baik aku mengerjakan pekerjaanku yang terbengkalai ini.” Ucapnya.

At Tiffany’s house

Tiffany memasuki rumahnya dan langsung disambut oleh ayahnya yang sudah menunggunya pulang sejak tadi.

“Hai Appa!” sapa Tiffany dan langsung memeluk ayahnya.

“Miyoung, kau dari mana saja? Kau bilang saat jam makan siang kau akan kembali ke kantor tapi kau malah tidak kembali.” Tanya ayahnya.

“Ehm.. itu.. sehabis aku menemui Jessie, aku tidak sengaja bertemu temanku dan kami menghabiskan waktu bersama seharian. Mianhae Appa..” Jelas Tiffany.

“Lain kali kau harus memberitahu aku atau asisten mu jika kau tidak bisa kembali ke kantor, cobalah untuk lebih bertanggung jawab pada perusahaan kita, Miyoung.” Jelas Ayahnya.

“Ne Appa..” Ia pun menganggukkan kepalanya. “Aku ke kamar ku dulu, Appa.”  Tambahnya.

“Baiklah.. ayah akan menunggumu untuk makan malam.”

Tiffany pun lalu menuju kamarnya.. yang ada dipikirannya saat ini hanyalah perkataannya pada Sooyoung saat di mobil, Sooyoung mendengarnya bahwa ia menyukainya.

“Aaaaah bagaimana ini? Dia mendengar ucapanku.. bagaimana besok aku menemuinya? Aku benar-benar sangat malu..” Ucapnya frustasi.

Ia lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur, dan mengguling-gulingkan tubuhnya dikasur.

“Aaaaah Choi Sooyoung kau membuatku gila!” Teriaknya.

‘Ini benar-benar ajaib, aku baru saja bertemu dengannya hari ini, tapi aku telah menyukainya. Aku bahkan sudah sangat-sangat menyukainya. Dia membuatku penasaran dengannya, dan aku sangat ingin mengenalnya lebih jauh.’ Pikir Tiffany.

“Sebaiknya sekarang aku mandi, aku akan melanjutkan memikirkannya nanti.” Ucapnya.

Tiffany pun mandi, dan setelah mandi ia makan malam bersama ayahnya. Setelah makan malam ia kembali ke kamarnya lagi. Ia duduk di depan meja riasnya sambil memandangi wajahnya sendiri.

“Aaaah cantik sekali!” Ucapnya saat melihat bayangannya sendiri di cermin.

“Besok kita akan makan siang bersama Choi Sooyoung, aku sangat tidak sabar untuk bertemu lagi walaupun aku sedikit malu untuk bertemu denganmu.” Dia berbicara sendiri pada bayangannya dicermin.

“Sooyoung telah mengetahui bahwa aku menyukainya, lalu kenapa aku harus malu dengannya?” Ia bertanya pada bayangannya di cermin.

“Baiklah, karena dia telah mengetahui bahwa aku menyukainya, yang harus aku lakukan sekarang adalah membuatnya menyukaiku juga, iya kan?” Tanyanya lagi pada cermin dihadapannya.

“Baiklah yang harus aku lakukan besok adalah aku harus berdandan secantik mungkin dan membuatnya menyukaiku. Fighting!” Ucapnya sambil tersenyum dan mengepalkan kedua tangannya.

“Dan sebaiknya sekarang aku tidur, karena besok siang aku akan bertemu dengan anti-pink prince ku.” Ucapnya pada dirinya sendiri, lalu ia pun menuju tempat tidurnya dan tidur sambil berharap ia bisa memimpikan Sooyoung dalam tidurnya.

**

 ‘KRING KRING KRING’

Suara alarm berbunyi menandakan bahwa seseorang harus meninggalkan dunia mimpinya dan terbangun dari tidur.

“Arrrrggghhh.. “ Sooyoung terbangun dari tidurnya dan langsung mematikan alarmnya yang berbunyi.

“Ya! Mengapa kau berbunyi secepat ini? Hah! Aku baru tidur 3 jam, dan sekarang kau membangunkanku!” ia marah-marah pada alarm nya.

“Hooaaaam.. huh sudah jam 8.” Gumamnya.

Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandinya untuk mandi. Setelah mandi ia langsung memakai baju, ia memakai kemeja dan celana jeans. Ia bekerja sebagai fotograper pada sebuah perusahaan majalah milik temannya yaitu Nichkhun.

Sooyoung pun melihat bayangan dirinya di cermin.

“Tampan.” Ucapnya sambil tersenyum.

Ia lalu keluar dari kamarnya dan ke dapur, ia hanya makan beberapa potong roti dan segelas susu. Setelah ia menghabiskan sarapannya ia pun keluar dari apartemennya menuju mobilnya yang ada di basement.

Hari ini Tiffany bangun sangat pagi, ia bahkan membuatkan sarapan untuknya dan ayahnya. Diwajahnya tergambar senyum bahagia sejak ia membuka matanya pagi ini. Ketika ia sedang menyiapkan sarapannya di meja makan, ternyata ayah nya telah bangun dan duduk di meja makan tersebut.

“Waw.. kau membuat sarapan? Hal yang sangat jarang terjadi.” Ucap ayahnya sambil tersenyum jahil pada putrinya.

“Selamat pagi, Appa!” Sapa Tiffany pada ayahnya. “Hari ini aku sedang bahagia, jadi aku yang membuatkan sarapan untuk kita.” Ucap Tiffany sambil tersenyum dan menunjukan eye smile nya pada ayahnya.

“Eeeyy.. apa yang membuatmu bahagia? Coba beritahu ayah.” Tanya ayahnya sambil memakan sarapan yang telah Tiffany buat.

Tiffany pun duduk di depan ayahnya.

“Ehmm.. itu rahasia.” Jawabnya.

“Apa semalam kau bermimpi bertemu dengan pinky prince mu itu?” tanya ayahnya lagi menggoda Tiffany. Ayahnya sangat tahu bahwa Tiffany selalu memimpikan seorang yang ia idam-idamkan, yakni pinky prince nya itu.

“Tidak, dia bukan pinky prince.” Jawab Tiffany.

“Lalu kalau dia bukan pinky prince, mengapa kau sesenang ini?” ayahnya bertanya lagi.

“Itu rahasia.” Jawabnya.

“Baiklah.. Terserah kau sajalah, yang terpenting kau bahagia. Jika kau bahagia, aku juga bahagia.” Ucap ayahnya sambil tersenyum.

“Hehehe aku menyangimu, Appa. Sangat-sangat menyayangimu.” Ucap Tiffany sambil memeluk ayahnya. “Hmm.. Appa, bolehkah aku pergi ke kantor bersamamu hari ini?.” Tanya Tiffany.

“Tentu saja sayang.” Jawab ayahnya.

“Thank you Dad.” Ucapnya bahagia.

Setelah mereka selesai sarapan mereka pun pergi ke kantor bersama. Dikantor, Tiffany pun sangat bersemangat mengerjakan semua pekerjaannya. Ia ingin semua pekerjaannya cepat selesai agar pada saat jam makan siang, ia tidak telat untuk makan siang bersama Sooyoung.

Tanpa terasa jam makan siang telah tiba, Tiffany pun buru-buru merapikan semua pekerjaannya dan pergi meninggalkan kantornya menuju restoran dekat jalan dimana ia hampir ditabrak oleh Sooyoung.

**

Sooyoung sedang di studio pemotretan milik perusahaan dimana ia bekerja, ia masih harus menyelesaikan sesi pemotretan hari ini.

“One.. Two.. Three..”

‘KLIK’

Flash

“Oke kurasa sudah cukup, terimakasih atas kerja samanya.” Ucapnya sambil membungkuk pada modelnya setelah melihat gambar hasil jepretannya.

“Ne, oppa! Kau juga sudah bekerja keras.” Ucap model pemotretan tersebut.

Tanpa terasa ternyata jam telah menunjukan waktunya makan siang, Sooyoung pun teringat oleh ucapan Tiffany yang mengajaknya untuk makan siang bersama hari ini.

He Is Not Pinky Prince [Four]

HE-IS-NOT-PINKY-PRINCE7

Author : SooCobyDoo

Cast      : Choi Sooyoung (Man), Hwang Tiffany, Kwon Yuri

Tiffany merasa kaget serta kecewa dengan jawaban Sooyoung, ia sangat berharap bahwa Sooyoung adalah pinky prince nya, namun ternyata dia bukan. Ia justru tidak menyukai pink, dan hanya warna pink yang ia tidak suka. Tiffany benar-benar merasa pusing, dan sekarang ia tidak bohong, wajahnya pun terlihat pucat.

“Wae?” Tanya Sooyoung merasa bingung dengan pertanyaan Tiffany tadi. Namun Tiffany hanya terdiam, ia juga terlihat sedikit pucat.

“Hey!” seru Sooyoung sambil melambai – lambaikan tangannya di depan wajah Tiffany agar wanita itu memberikan perhatiannya pada Sooyoung.

“Ta-da!” Sulli pun menghampiri Tiffany dan Sooyoung sambil membawa makanan yang telah ia siapkan dan menaruhnya di atas meja makan. Ia pun lalu duduk di samping Tiffany.

“Ayo makan!” Sulli berseru, mengajak Tiffany dan Sooyoung untuk mulai makan. Sooyoung pun langsung melahap makanan yang ada di hadapannya tanpa menghiraukan Tiffany dan Sulli. Namun Tiffany masih terdiam dan tidak menyentuh makanannya sama sekali.

“Eonni, mengapa kau tidak memakan makananmu?” tanya Sulli heran karena Tiffany tidak makan.

“Eh? Aku.. aku sedang tidak nafsu untuk makan.” Jawabnya.

“Omo! Eonni wajahmu lebih pucat dari sebelumnya.. sebaiknya kau makan walaupun hanya sedikit.” Ucap Sulli.

Mendengar ucapan Sulli, Sooyoung pun melihat kearah wajah Tiffany.

“Apa kau akan pingsan lagi?” tanyanya pada Tiffany yang terlihat pucat.

“Kenapa aku harus pingsan lagi?” Tiffany malah bertanya pada Sooyoung.

“Ya! Lihat wajahmu itu, sangat pucat! Setidaknya kau harus makan walaupun kau sedang tidak ingin makan! Jika kau pingsan lagi, kau akan lebih merepotkanku.” Ucap Sooyoung sedikit kasar pada Tiffany.

“Shireo!” jawab Tiffany.

“Ya!” Sooyoung berseru.

“Oppa! Haruskah kau berbicara seperti itu pada Tiffany Eonni?” Ucap Sulli yang tidak suka dengan cara Sooyoung berbicara.

Tiba-tiba Sooyoung menyendokkan makanan Tiffany dan menyodorkannya ke depan mulut Tiffany.

“Buka mulutmu.” Perintah Sooyoung pada Tiffany.

Tiffany terkejut dengan tindakan Sooyoung yang tiba-tiba saja ingin menyuapinya. ia pun membuka mulutnya dan memakan sesendok makanan yang ada di tangan Sooyoung.

“Bagus, ternyata kau tau caranya mengunyah makanan, sekarang makanlah sendiri..” Ucap Sooyoung.

Tiffany bingung dengan sikap Sooyoung yang terkadang kasar tapi terkadang juga baik dan sangat mencemaskan keadaannya walaupun dengan cara yang dingin. Dan karena itulah Tiffany justru semakin menyukai Sooyoung. Tapi ia sedih karena Sooyoung bukanlah pangeran yang ia tunggu-tunggu selama ini. Ia kecewa karena Sooyoung tidak menyukai pink.

Setelah makan, wajah Tiffany pun tidak pucat lagi dan dia juga membantu Sulli mencuci piring yang telah mereka gunakan untuk makan. Sedangkan Sooyoung hanya duduk santai di sofa sambil menonton tv. Ketika mereka telah selesai mencuci piring, mereka pun ikut bergabung dengan Sooyoung menonton tv. Mereka sangat menikmati acara tv yang mereka tonton, Tiffany dan Sulli selalu tertawa terbahak-bahak ketika ada yang lucu pada acara tv tersebut, tapi Sooyoung tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali dari wajahnya.

‘Mengapa ekspresi wajahnya biasa saja, padahal ia sedang menonton sesuatu yang lucu. Tapi dia terlihat keren, aku semakin menyukainya.’ Pikir Tiffany sambil tersenyum sendiri memperhatikan Sooyoung.

Sooyoung merasa sedari tadi Tiffany melihat kearahnya terus, ia pun menoleh ke arah Tiffany.

“Wae? Kenapa kau melihat kearahku terus?” tanyanya.

“Ah Ani, aku hanya tidak sengaja melihat kearahmu.” Jawab Tiffany.

“Tidak sengaja tapi kau melihat kearahku terus lebih dari satu menit.” Ucap Sooyoung.

“Apa iya?” tanya Tiffany.

“Ne.” Jawabnya. Tiffany hanya tersenyum malu pada Sooyoung, wajahnya pun terlihat merah.

‘Dia benar-benar aneh.’ Pikir Sooyoung.

Tanpa terasa hari telah berganti malam..

“Oppa.. sepertinya aku harus pulang, ibu pasti mencemaskanku.” Ucap Sulli.

“Baik, kalau begitu Oppa akan mengantarmu pulang.” Jawab Sooyoung. “Kau juga Tiffany.” Tambah Sooyoung.

Sooyoung mengantarkan Sulli terlebih dulu, karena rumah keluarganya lebih dekat dari pada rumah Tiffany ( Setelah Tiffany memberitahukan alamat rumahnya pada Sooyoung. )

‘Rumah yang sangat besar.’ Ucap Tiffany di dalam benaknya yang kagum melihat rumah keluarga Sooyoung dan Sulli, ketika Sooyoung menghentikan mobilnya di halaman rumahnya.

“Oppa, kau tidak mau masuk kedalam dulu?” tanya Sulli pada kakaknya.

“Sampaikan salamku saja pada ayah dan ibu.” Jawa Sooyoung.

“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa Tiffany  Eonni dan terimaksih Oppa telah mengantarku.” Ucap Sulli, Sooyoung hanya mengangguk.

“Sampai bertemu lagi Sulli.” Ucap Tiffany sambil melambaikan tangannya pada Sulli.

Sooyoung menjalankan mobilnya lagi dan meninggalkan halaman rumahnya, sekarang hanya ada Sooyoung dan Tiffany di dalam mobilnya.

“Terimakasih.” Ucap Tiffany tiba-tiba menghancurkan keheningan antara mereka berdua.

Sooyoung menganggukkan kepalanya. “Tentu saja kau harus berterimakasih, kau sangat merepotkanku.” Jawab Sooyoung.

“Maaf, maafkan aku karena telah merepotkanmu lain kali aku tidak akan merepotkanmu lagi.” Ucap Tiffany sambil menundukkan kepalanya.

“Lain kali? Apa kau pikir kita akan bertemu lagi? Aku yakin kita tidak akan bertemu lagi.” Ucap Sooyoung.

“Wae? Tentu saja kita akan bertemu lagi, aku bahkan ingin selalu bertemu denganmu setiap hari. Walaupun aku tau kau tidak menyukai pink.” Ucap Tiffany.

“Eh? Apa maksudmu?” tanya Sooyoung yang tidak mengerti dengan kata-kata Tiffany.

“Aku sebenarnya menyukai pria yang menyukai warna pink juga seperti aku, tapi entah mengapa aku tetap ingin bertemu denganmu terus walaupun kau tidak menyukai pink.” Jelas Tiffany.

“Kau aneh.” Ucap Sooyoung.

“Kau lebih aneh.” Jawab Tiffany.

Sooyoung lalu menghentikan mobilnya.

“Kurasa kita sudah sampai di rumahmu Tiffany.” Ucap Sooyoung.

“Ah iya kau benar, terimakasih telah mengantarku pulang.” Ucap Tiffany, Sooyoung hanya mengangguk. “Hmm.. Sooyoung? Berikan aku nomer ponselmu.” Pintanya.

“Shireo.” Jawab Sooyoung.

“Pelit!” Seru Tiffany. Lalu ia pun cemberut, ia sebal dengan Sooyoung yang tidak mau memberikan nomer ponselnya.

‘Cute’ pikir Sooyoung.

“Aku tidak peduli.” Ucapnya. “Kau aneh dan membuatku takut.” Tambah Sooyoung.

“Kau pelit tapi kau membuatku menyukaimu.” Jawab Tiffany pelan.

“Mwo?” Tanya Sooyoung.

“Ani..” jawab Tiffany. ‘Kuharap Sooyoung tidak mendengar ucapanku tadi.’ Ucapnya dalam hati.

“Oh iya karena kau tidak mau memberikan nomer ponselmu, sebagai gantinya besok.. ayo kita makan siang bersama! Aku akan menunggumu di kafe di seberang jalan dimana kau hampir menabrakku. Kau harus datang!” Ajak Tiffany, lalu ia pun keluar dari mobil Sooyoung.

“Apa-apaan dia itu.. seenaknya saja.” Gumam Sooyoung.

Baru beberapa langkah ia meninggalkan mobil Sooyoung, Sooyoung memanggilnya dan membuatnya memalingkan kepalanya ke arah Sooyoung.

“Ya! Tiffany Hwang!! Lain kali jika berbicara keraskan suaramu! Untung saja aku tidak tuli, jadi aku masih bisa mendengar ucapanmu tadi walaupun suaramu pelan!” Teriak Sooyoung.

“Mwo?” Ucap Tiffany bingung.

Lalu Sooyoung pun menjalankan mobilnya dan pergi dari rumah Tiffany.

‘Apa maksudnya? Oh.. apa jangan-jangan dia mendengar ucapanku bahwa aku menyukainya?’ Pikir Tiffany.

“AAAAAAAAAHH TIDAK!!!” Teriak Tiffany.

He Is Not Pinky Prince [Three]

HE-IS-NOT-PINKY-PRINCE7

Author : SooCobyDoo

Cast      : Choi Sooyoung (Man), Tiffany Hwang, Kwon Yuri

Agassi.. Agassi..! panggil Sooyoung pada wanita itu. Melihat wanita itu pingsan dalam rangkulannya membuat ia bingung.

‘Bagaimana ini?’ gumamnya.

Ia lalu mengangkat tubuh wanita itu dan memasukkannya ke dalam mobilnya dan membawa wanita itu pergi dari tempat itu.

2 jam kemudian..

Tiffany terbaring diatas kasur yang cukup besar, ia pun perlahan membuka matanya.

“Dimana aku?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Tiffany bangun dari posisinya dan duduk di tepi kasur tersebut, ia menatapi setiap sisi kamar tempat ia berada sekarang. Nampak rapi namun terlihat sedikit berdebu pada setiap barang yang ada di kamar itu. Mungkin pemilik kamar itu tidak sempat untuk membersihkan kamarnya dari debu-debu, pikirnya.

‘Pemilik kamar ini?’

Tiffany pun teringat pada kejadian beberapa jam lalu di perempatan jalan dekat kantor Jessica..

“Apa mungkin ini kamarnya? Tapi mengapa ia membawaku kesini, bukan ke rumah sakit?” Gumamnya.

Ia pun beranjak dari kasur yang ia duduki itu dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu. Ketika ia telah diluar kamar, ia pun mencari sosok pemilik dari tempat itu. Tiffany melihat seorang namja yang ia sangat kagumi sosoknya sejak pertama kali bertemu sedang terlelap tidur diatas sofa ruang tamunya. Ia pun mendekati namja itu dan memandangi wajah tampannya.

“Kau terlihat semakin tampan dan lucu ketika kau tidur.” Ucapnya pelan.

Tanpa ia duga dan tanpa ia sengaja tangannya mengelus-mengelus pipi pria itu. Pria itu pun perlahan membuka matanya dan melihat sosok wanita yang ada dihadapannya sedang mengelus wajahnya. Ia pun kaget dan menyingkirkan tangan wanita itu dari wajahnya. Wanita itu nampak cemberut dan duduk di samping pria itu.

“Kau sudah sadar?” tanya pria itu pada Tiffany.

“Tentu saja, seperti yang kau lihat.” Jawab Tiffany sambil memberikan senyuman termanisnya pada pria itu.

“Apa kau baik-baik saja?” Pria itu bertanya lagi.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Tiffany tetap tersenyum walaupun pria itu bertanya padanya dengan ekspresi wajah yang datar.

“Kau sungguh baik-baik saja? Tadi kau pingsan, apa kau tidak merasa pusing?” Pria itu bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya. Ia tampak cemas dengan keadaan wanita yang sekarang duduk di sebelahnya, karena ia hampir menabrak wanita itu.

“Aku baik-baik saja, dan kurasa aku sangat baik-baik saja. Aku bahkan tidak merasa pusing sedikit pun di kepalaku.” Jelas Tiffany.

“Baguslah kalau begitu..” Ucap pria itu. Ia beranjak dari sofa yang ia duduki dan melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengabil segelas air untuk wanita itu.

‘Ini suatu keajaiban aku bisa berada di tempat pria itu, dari pertanyaannya ia terlihat cemas dengan keadaan ku namun ekspresi wajahnya tidak terlihat khawatir sama sekali. Benar-benar pria yang dingin.’ Pikir Tiffany.

“Tapi aku menyukainya.” Gumam Tiffany.

“Ini minumlah..” Pria itu pun memberikan segelas air itu pada wanita yang sedang duduk di sofanya itu.

“Terimakasih..” Ucap Tiffany. Pria itu lalu duduk di sofa yang ada dihadapan Tiffany.

“Ehmm.. apa aku boleh tau namamu?” tanya Tiffany pada pria itu.

“Choi Sooyoung.” Jawabnya singkat bahkan ia tidak melihat kearah Tiffany sama sekali.

“Aku Tiffany, Tiffany Hwang.” Ucap Tiffany sambil mengulurkan tangannya pada pria itu untuk berjabatan dengannya. Sooyoung pun menyambut tangan Tiffany dan berjabatan dengannya.

“Karena kau baik-baik saja, sebaiknya kau pulang sekarang..” Ucap Sooyoung.

“Huh?” Ucap Tiffany dengan ekspresi wajah yang bingung dengan sikap Sooyoung yang tidak terlalu baik padanya.

‘DING DONG DING DONG’

Sooyoung pun berdiri dan berjalan menuju pintu apartemennya. Ia pun membuka pintu apartemennya dan seorang wanita yang lebih muda dari sooyoung pun masuk ke dalam.

“Oppa..! aku sangat merindukanmu!” Ucap wanita yang lebih muda itu dan lalu ia memeluk Sooyoung sangat erat.

“Aku juga, Sulli-ya tolong lepaskan pelukanmu, kau bisa membunuhku.” Jawab Sooyoung.

“Hehehehe mianhae Oppa.” Ucap Sulli sambil melepaskan pelukannya. “Oppa, aku membawakanmu makanan yang sangat banyak!” Tambahnya sambil menunjukkan kantung plastik penuh makanan yang ia bawa pada Sooyoung.

“Gomawo..” jawab Sooyoung sambil mengelus kepala Sulli.

“Ya! Oppa! Aku bukan anak kecil lagi. Jangan perlakukan aku seperti itu.” Protesnya, sambil mereka berdua berjalan menuju ruang tamu.

Tiffany yang sedang duduk di ruang tamu, mendengar suara wanita dari arah pintu apartemen Sooyoung, ia pun merasa penasaran siapakah wanita itu. Tak lama kemudian Sooyoung berjalan ke arah ruang tamu dengan seorang wanita yang menggandeng tangannya.

‘Apakah dia kekasihnya?’ pikir Tiffany setelah melihat wanita menggandeng tangan Sooyoung. Wajahnya pun berubah menjadi kecewa.

“Oppa, siapa dia?” bisik Sulli pada Sooyoung setelah melihat ada seorang wanita di apartemen Sooyoung.

“Oh dia bukan siapa-siapa.” Jawab Sooyoung.

“Kau yakin oppa?” Tanyanya lagi.

“Ne.” Sooyoung menjawab sambil sedikit tersenyum pada Sulli.

Tiffany merasa terganggu melihat wanita itu berbisik-bisik pada Sooyoung, ia merasa cemburu dengan kedekatan mereka. Ia semakin cemburu ketika Sooyoung terlihat tersenyum pada wanita itu, sedangkan sejak ia bertemu dengannya, Sooyoung tidak pernah tersenyum padanya.

“Tiffany, kau tidak pulang?” Tanya Sooyoung.

“Ehmm.. hmm.. ah.. tiba-tiba kepalaku terasa pusing.” Jawabnya bohong.

“Eh? Bukankah tadi kau bilang bahwa kau baik-baik saja?” Sooyoung bertanya lagi.

“Iya, tapi sekarang kepalaku baru terasa pusing.” Jawab Tiffany berbohong lagi. Ia berbohong karena ia ingin lebih lama berada di apartemen Sooyoung, dan juga untuk mencari tau siapakah wanita yang ada di dekat Sooyoung saat ini.

“Omo! Eonni.. kau sedang sakit?” Tanya Sulli lalu ia duduk disebelah Tiffany.

“Enghh.. aku.. aku hanya sedikit pusing karena aku pingsan tadi.” Jawabnya dengan sedikit bingung dengan Sulli.

“Mwo? Kau pingsan?” Tanya Sulli, Tiffany hanya menganggukkan kepalanya. “Ya! Oppa! Apa yang kau lakukan padanya hingga ia pingsan?” Tanya Sulli pada Sooyoung dengan nada marah.

‘Oppa?’ pikir Tiffany.

“Tadi dia pingsan karena aku hampir menabraknya di jalan, karena dia tidak mengalami luka-luka jadi aku membawanya kesini daripada kerumah sakit.” Jelas Sooyoung pada Sulli.

‘Oppa masih trauma dengan rumah sakit sepertinya.’ Pikir Sulli.

“Oh.. Eonni, maafkan Oppa ku ini yang telah membuatmu pingsan.” Ucap Sulli sambil membungkukkan badannya pada Tiffany.

“Ah tidak apa-apa, lagi pula aku juga tidak terluka.” Jawab Tiffany.

“Iya, tapi.. oh aku hampir lupa, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Choi Jinri, tapi kau bisa memanggilku Sulli. Aku adik dari Sooyoung Oppa. Eonni?” ucap Sulli memperkenalkan dirinya pada Tiffany.

‘Oooh jadi dia adalah adiknya Sooyoung.’ Pikir Tiffany dengan perasaan lega.

“Aku Tiffany Hwang, senang berkenalan denganmu Sulli-ssi.” Tiffany dan Sulli pun berjabatan.

Sooyoung hanya diam sambil memperhatikan Sulli dan Tiffany.

“Eonni sebaiknya kau istirahat..” Perintah Sulli pada Tiffany.

“Ne.” Jawab Tiffany.

Baru saja Sulli ingin menuntun Tiffany ke kamar Sooyoung untuk beristirahat, ia malah mendengar suara aneh yang bersumber dari perut Tiffany.

“Eh?” ucapnya. “Kau belum makan, Eonni?” Tanya Sulli.

‘Ah perut ku berbunyi, ini sangat memalukan.’ Pikir Tiffany.

“Iya.. hehehe.” Jawab Tiffany.

“Baiklah kita makan bersama, kebetulan aku membawa makanan yang banyak dan kurasa cukup untuk kita bertiga. Ayo kita makan Oppa, Eonni..!” Ajak Sulli sambil menarik tangan Tiffany dan Sooyoung menuju dapur untuk makan bersama.

Lalu Tiffany dan Sooyoung pun duduk di meja makan.

‘Makanannya memang cukup untuk bertiga, tapi bagian makananku jadi sedikit.’ Ucap Sooyoung pelan. Sulli tidak mendengar gumamannya itu karena ia sedang sibuk menyiapkan makanan yang akan mereka makan, tapi Tiffany mendengarnya. Ia hanya tertawa mendengar gumaman Sooyoung. Sooyoung pun melirik ke arah Tiffany yang tertawa sendiri.

“Apa yang kau tertawakan? Tidak ada hal yang lucu.” Ucap Sooyoung dengan raut wajah yang merasa terganggu dengan Tiffany.

“Ah Mianhae..” Ucap Tiffany sambil membunggkukkan badannya pada Sooyoung.

‘Wanita yang aneh. Tadi dia bilang tidak merasa pusing, lalu setelah itu dia bilang kalau dia merasa pusing. Dan sekarang dia tertawa sendiri. Benar-benar aneh. Tapi.. dia terlihat cantik.’ Pikir Sooyoung.

‘Dia tampan dan cute, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat menyebalkan. Tapi aku menyukainya. Tapi hal yang aku cemaskan adalah, sejak aku berada di apartemennya, aku tidak melihat sesuatu yang berwarna pink sama sekali. Ah sepertinya dia tidak menyukai warna pink. Bagaimana ini?’ pikir Tiffany dengan perasaan yang cemas.

“Ehm.. Sooyoung.. apa warna kesukaanmu?” Ia pun memberanikan dirinya untuk bertanya pada Sooyoung karena dia penasaran dengan warna kesukaan Sooyoung.

“Semua warna.” Jawab Sooyoung singkat.

“Jinja?” Tiffany senang karena kemungkinan Sooyoung juga menyukai warna pink.

“Semua warna, kecuali pink.” Lanjutnya lagi.

He Is Not Pinky Prince [Two]

HE-IS-NOT-PINKY-PRINCE7

 

Author : SooCobyDoo

Cast      : Choi Sooyoung (Man), Tiffany Hwang. Kwon Yuri

 

Tiffany masih terdiam berdiri di depan toko bunga, ia masih terpesona oleh sosok pria yang tadi tidak sengaja ia temui.

“Kemana dia? “ ucap Tiffany pada dirinya sendiri setelah sadar bahwa pria itu telah meninggalkannya.

‘Bagaimana bisa dia pergi seperti itu? Kita bahkan belum berkenalan..’ pikirnya

Lalu ia pun masuk ke toko bunga tersebut untuk membeli sebuket bunga untuk ia berikan kepada temannya yang baru saja diangkat sebagai CEO. Setelah membeli sebuket bunga, ia pun meninggalkan toko bunga tersebut dan pergi menuju kantor temannya, Jessica.

‘Ku harap di waktu yang akan datang aku dapat bertemu dengan pria itu lagi’ pikir Tiffany selama perjalanan menuju kantor Jessica.

25 menit kemudian ia pun sampai di Jung’s Corporation.

‘Knock Knock’

“Masuk.” Ucap seorang wanita dari dalam ruangan yang tak lain adalah Jessica, temannya Tiffany.

Tiffany pun masuk keruangan itu, dan langsung menghampiri dan memeluk temannya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.

“Jessieeee…..!! Chukae!”

“Ya! Bisakah kau tidak terlalu erat memelukku. Aku tidak bisa bernafas! Ucap Jessica sambil melepaskan pelukan Tiffany. Tiffany pun lalu melepaskan pelukannya dan duduk di kursi di depan meja Jessia.

“Aku kan hanya merasa senang karena kau sekarang sudah menjadi CEO di perusahaan milik ayahmu ini.” Ucap tiffany sambil memberikan sebuket bunga yang ia beli dan cemberut pada Jessica.

“Gomawo Tiff..” ucap Jessica lalu mengambil bunga pemberian Tiffany.”Jangan cemberut seperti itu, kau sangat jelek!” Ejek Jessica sambil tertawa melihat ekspresi wajah temannya yang sedang cemberut.

“Ya! Walaupun aku cemberut tapi aku masih terlihat cantik dan cute. You Know!” Balas Tiffany.

“Iya kau cantik dan cute, tapi kau belum memiliki kekasih sampai sekarang.” Ucap Jessica mengejek Tiffany lagi.

“Jangan karena kau sudah memiliki Donghae oppa lalu kau mengejekku seperti itu Jessie.” Balas Tiffany.

“Hahahah mian mian.. lalu sampai kapan kau akan menunggu pinky prince mu itu datang, huh?” Tanya Jessica.

“Tentu saja sampai pinky prince ku datang..” jawab Tiffany sambil menjulurkan lidahnya ke arah Jessica.

“Aish.. aku tau itu, tapi sampai kapan. Kau menolak banyak pria hanya karena mereka itu tidak suka warna pink. Lagi pula jarang sekali pria yang menyukai warna pink tiff.” Jelas Jessica pada Tiffany.

“Aku yakin aku akan bertemu dengan salah satu dari mereka yang menyukai pink..” ucap Tiffany sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

“Ku harap dia menyukai pink..” ucap Tiffany pelan namun masih bisa terdengar oleh Jessica.

“Siapa?” tanya Jessica.

“Siapa yang siapa?” Tiffany malah berbalik bertanya pada Jessica.

“Aku mendengar gumaman mu itu Tiffany Hwang. Jadi siapa pria itu yang kau harapkan menyukai pink juga?” Tanya Jessica yang sangat penasaran dengan gumaman temannya itu.

“Aku tidak tahu, aku belum sempat berkenalan dengannya.” Ucap Tiffany sambil memperlihatkan wajahnya yang sedikit sedih karena belum mengetahui nama dari pria yang tak sengaja ia temui di toko bunga.

“Lalu kau menyukainya?” tanya jessica lagi.

“Kurasa begitu, dia sangat tampan dan cute. entah mengapa saat aku memegang tangannya aku merasa sangat nyaman.” Jelas Tiffany sambil mengingat kejadian saat itu.

“Kau belum mengenalnya tapi kau sudah menyukainya dan berpegangan tangan, aku tidak mengerti denganmu Tiff.” Ucap Jessica.

“Aku berpegangan tangan dengannya karena ia membantu ku untuk bangun dari lantai setelah aku terjatuh karena ia menabrakku.” Jelas Tiffany pada temannya itu.

“Ouuw begitu..” Ucap Jessica sambil mneganggukkan kepalanya pertanda ia telah mengerti dengan penjelasan Tiffany.

“Aku sangat berharap untuk dapat bertemu dengannya lagi Jessie..” ucap Tiffany.

“Semoga saja Tiff, dan semoga saja ia juga menyukai pink. Dan kau bisa menpunyai kekasih. Hahaha” ucap Jessica masih tetpa meledek Tiffany karena ia belum mempunyai kekasih.

“Ya! Kau!” ucap Tiffany sebal dengan ejekan Jessica padanya sejak tadi.

“Aigoo.. aku kan hanya bercanda.” Jawab Jessica.

“Iya iya aku tahu.. Sebentar lagi jam makan siang. Jessica, ayo kita makan siang bersama.” Ajak Tiffany.

“Maaf Tiff, tapi aku sudah berjanji pada Donghae oppa untuk makan siang bersamanya.” Jawab Jessica.

“Baiklah kalau begitu.. aku makan siang sendiri saja. Sampai jumpa Jess, nikmatilah makan siang mu dengan Donghae Oppa. Bye.” Ucap Tiffany lalu beranjak dari kursi yang ia duduki dan pergi keluar dari ruangan Jessica sambil melambaikan tangannya pada Jessica.

“Ne, Bye Tiff.” Ucap Jessica sambil melambaikan tangannya juga pada Tiffany yang meniggalkan ruangannya.

Tiffany pun keluar dari gedung Jung’s Corporation dan berniat untuk makan siang di restoran yang terdapat di seberang kantor Jessica. Ia pun melangkahkan kakinya untuk menyeberang ketika lampu lalulintas berubah menjadi merah. Saat itu tidak terlalu banyak mobil yang ada dijalanan itu, namun ketika Tiffany menyebrang..

“Aaaaaaah!” teriak Tiffany.

Di Pemakaman Yuri

Sooyoung memasuki area pemakaman dimana Yuri dimakamkan. Ia menghentikan langkahnya ketika ia telah di depan makam Yuri.

“Annyeong Chagi-ya.. aku datang lagi.” Ucapnya sambil tersenyum pada makam Yuri.

“Lihat yang aku bawa, ini bunga favoritmu. Aku taruh disini, oke?” Sooyoung pun berlutut dan meletakkan bunga yang ia bawa di atas batu nisan Yuri.

“Tidak terasa sudah satu tahun..”

“Chagi-ya.. mianhae.. maafkan aku atas hal bodoh yang pernah aku lakukan padamu dimasa lalu. aku memang si bodoh. Chagi-ya, aku benar-benar merindukanmu.. hari-hariku tanpa dirimu sangatlah menyiksa semuanya terasa kosong disini.” Ucap Sooyoung sambil memegang dadanya.

“Semua rasa sakit ini memang salahku, aku menyuruhmu untuk pergi meninggalkanku sendiri.. dan ternyata kau benar-benar pergi. Apa masih bisa aku merasakan kebahagiaan seperti saat bersamamu dulu chagi-ya?” Sooyoung pun meneteskan airmatanya, ia sangat merindukan sosok Yuri dalam kehidupannya.

“Yuri-ya.. kau disana harus menungguku dan harus tetap mencintaiku. Maka pada saatnya nanti kita bertemu lagi aku akan memohon maaf padamu dari dalam hatiku yang sangat dalam dan kita bisa saling mencintai lagi.” Ucap Sooyoung pada makam Yuri. Ia pun membersihkan airmata yang ada di wajahnya.

“Yuri-ya, aku harus pulang.. aku akan datang lagi nanti, saranghae.” Ucapnya sambil tersenyum lalu berdiri dan melangkahkan kaki menuju mobilnya yang ia parkirkan di luar pemakaman. Ia harus pulang karena ia teringat bahwa Sulli sore ini akan datang ke apartemennya.

Ketika di perjalanan menuju apartemennya Sooyoung menyetir sambil melamun, sepanjang hari ini ia hanya memikirkan Yuri. Ia merasa sudah tidak kuat untuk menjalani hidup tanpa Yuri. Tiba-tiba di pertigaan jalan..

“Aaaaaaah!” seorang wanita berteriak di hadapan mobil Sooyoung.

Ia pun kaget lalu mengerem mobilnya secara mendadak. Sooyoung benar-benar tidak menyadari bahwa lampu lalulintas sudah berubah merah karena ia melamun sejak tadi, dan ia hampir menabrak seorang wanita. Untungnya wanita itu tidak tertabrak olehnya. Ia pun keluar dari mobilnya dan menghampiri wanita itu. Wanita itu terlihat sangat kaget dengan apa yang terjadi, ia hanya berdiam diri di hadapan mobil Sooyoung.

“Maafkan aku agassi aku lalai mengendarai mobilku..” ucap Sooyoung sambil membungkukkan badannya pada wanita itu. Ia lalu melihat wajah wanita itu, wajahnya sangat pucat. Saat melihat wajahnya sooyoung teringat dengan wanita yang ia tabrak di toko bunga tadi.

“Kau?” Ucap Sooyoung dengan nada bertanya. Wanita itu masih tetap terdiam.

‘Aku bertemu denganmu lagi, pangeranku.. ini sebuah keajaiban, apakah aku sekarang sudah disurga?’ pikir wanita itu.

“Agassi kau tidak apa-apa?” tanya Sooyoung. Bukannya jawaban yang didapat Sooyoung, wanita itu malah pingsan. Sooyoung pun dengan sigap merangkul wanita itu sebelum terjatuh..

He Is Not Pinky Prince [One]

HE-IS-NOT-PINKY-PRINCE7

Author : SooCobyDoo

Cast      : Choi Sooyoung (Man), Tiffany Hwang, Kwon Yuri

*Note : Aku sudah pernah menge-post ini di AFF, namun dalam bahasa inggris. Ini dia versi bahasa-nya.

Flashback

Choi Sooyoung sedang serius di depan komputernya mengedit foto-foto yang sudah ia ambil untuk deadline-nya besok dan juga mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk.

“Aissh.. masih banyak sekali pekerjaanku ini!” ucapnya merasa frustasi dengan semua hal yang harus ia kerjakan.

Ponselnya berdering terus menerus, seharian ini Yuri menelponnya namun ia sangat segan untuk menjawab teleponnya. Sooyoung sangat sibuk dengan pekerjaannya dan sedang tidak ingin terganggu sama sekali, bahkan dengan kekasihnya sendiri. 15 menit kemudian tiba-tiba suara bell apartmentnya berbunyi, mau tak mau ia pun beranjak dari komputernya dan melangkahkan kakinya ke pintu apartmentnya. Sooyoung pun membuka pintu apartmentnya, ternyata yang datang adalah Yuri kekasihnya selama 2 tahun ini.

“Hai..” sapa Sooyoung. “Masuklah.” Tambahnya.

Yuri pun masuk ke apartment Sooyoung dan duduk di ruang tamunya. Ia menaruh kotak makanan yang ia bawa untuk Sooyoung diatas meja didepannya. Sooyoung menuju dapurnya dan mengambilkan segelas air untuk Yuri. Ia langsung menaruh segelas air itu di meja di depan Yuri.

“Ehm.. Soo..” ucap Yuri pelan.

Sooyoung mendengar Yuri, tapi dia hanya diam. Bukannya duduk menemani Yuri, Sooyoung justru pergi meninggalkan Yuri diruang tamunya sendirian dan ia malah melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai di depan komputernya lagi.

“Dia benar-benar mengabaikan ku..” Gumam Yuri.

Yuri pun mengahampiri Sooyoung yang sedang sibuk sambil membawa kotak makanan yang sudah ia siapkan untuk Sooyoung.

“Chagi-ya.. apa kau sangat sibuk sampai teleponku tidak kau jawab sejak tadi pagi?” tanya Yuri pada kekasihnya.

“Sangat.” Jawab Sooyoung singkat. Dengan pandangan mata hanya ke komputer dan tidak melirik Yuri sedikit pun.

Yuri merasa kecewa dan sedih dengan sikap Sooyoung yang sekarang dingin kepadanya. Ia tau Sooyoung sangat sibuk dengan pekerjaan dan urusan kuliahnya, tapi ia tidak pernah menyangka Sooyoung akan sedingin ini dan mengabaikannya seperti ini.

“Chagi-ya.. aku membawakan makanan untukmu.” Ucap Yuri sambil memperlihatkan kotak makanannya itu ke depan pandangan Sooyoung.

“Ayo kita makan bersama, kau pasti belum makan.” Tambah Yuri sambil tersenyum kepada Sooyoung.

“Aku tidak lapar.” Jawab Sooyoung.

“Soo..Aku tau kau sangat sibuk, dan aku juga tau kalau kau sedang tidak ingin diganggu bahkan diganggu oleh ku. Tapi makanlah.. aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu dan aku tidak mau kau sakit.” Ucap Yuri dengan sedikit rasa sedih oleh sikap Sooyoung saat ini.

“Aku bilang aku sedang tidak lapar, bisakah kau pergi dan tinggalkan aku sendiri. Kau tau aku sedang tidak ingin diganggu tapi kenapa kau tetap menggangguku?.” Ucap Sooyoung kepada Yuri, yang membuat hati Yuri seperti ditusuk secara mendadak. Kata-kata Sooyoung benar-benar telah menyakiti perasaannya.

“Haruskah kau berkata seperti itu? Aku datang kesini dan mengganggumu sekarang itu karena aku khawatir padamu, kau sangat sibuk dan mengabaikan banyak hal. Aku hanya peduli padamu Soo.” Ucap Yuri dan tanpa sadar ia mulai meneteskan airmatanya. Tapi Sooyoung masih tetap mengabaikan Yuri dan hanya diam seribu bahasa.

“Jika kau peduli, maka biarkan aku sendiri dan membereskan semua pekerjaan ku ini.” Jawab Sooyoung seolah tidak peduli dengan perasaan Yuri.

“Baiklah jika itu maumu, aku akan meninggalkanmu sendiri dan tidak akan menggangumu lagi. Selesaikanlah pekerjaanmu.” Ucap Yuri, ia pun menaruh kotak makannya itu diatas meja Sooyoung dan bergegas pergi dari apartment kekasihnya itu.Ketika sudah berada di luar gedung apartment Sooyoung, Yuri tidak lupa mengirimkan sebuah pesan pada kekasihnya itu.

Sooyoung masih tetap sibuk dengan pekerjaannya, ia mendengar semua yang dikatakan Yuri tadi dan dia memikirkan semua itu juga.

‘Beep’

Tiba-tiba ponsel Sooyoung berbunyi, ia melihat sekilas ke ponselnya dan melihat ada pesan dari Yuri. Ia pun membaca pesan dari kekasihnya tersebut.

From : Chagi-Yul

Jangan membuat orang lain khawatir terhadapmu. Saranghae.

“Maaf telah membuatmu khawatir.” Gumam Sooyoung. Lalu ia teringat oleh kata-kata kasarnya tadi terhadap Yuri.

“Aiiissh.. kenapa aku bisa sekasar itu padanya?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pun bergegas untuk menelpon Yuri. Dan berniat meminta maaf padanya.

‘Tuut tuut tuut’

“Yoboseyo?”

‘Suara siapa ini? Ini bukan suara Yuri.’ pikir Sooyoung.

“Kau siapa?” Tanya Sooyoung pada wanita yang menjawab telpon nya pada Yuri.

“Apakah kau keluarga dari wanita yang memiliki ponsel ini?” tanya wanita itu dengan nada yang panik.

“Bukan, tetapi dia kekasihku. Kau siapa? Mengapa ponselnya ada padamu?” tanya Sooyoung lagi pada wanita itu.

“Aku adalah suster di rumah sakit Seoul. Tuan, kekasih anda mengalami kecelakaan dan mengalami kebocoran di kepalanya, ia kehilangan banyak darah. sekarang ia sedang ditangani di UGD. Bisakah anda kesini dan menjadi wali dari pasien ini?” jelas wanita itu yang tak lain adalah seorang suster.

“Mwo? Ne, aku akan segera kesana.” Sooyoung kaget dan merasa tidak menyangka dengan apa yang ia dengar. Ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil kunci mobilnya dan langsung bergegas pergi ke rumah sakit dimana Yuri berada.

20 menit kemudian Sooyoung sampai dirumah sakit. Ia pun berlari menuju UGD, ia benar-benar panik, khawatir, dan takut dengan keadaan Yuri. Ketika ia memasuki UGD, yang ia lihat hanyalah tubuh Yuri yang telah tidak bernyawa. Dokter bilang Yuri kehabisan banyak darah akibat kebocoran di kepalanya dan Yuri tidak dapat bertahan lagi. Sooyoung hanya menangis sambil memeluk tubuh Yuri yang sudah tidak bernyawa itu. Dia benar-benar sedih dan merasa sangat bersalah pada Yuri.

“Chagi-ya mianhae.. jeongmal mianhae.. tolong jangan tinggalkan aku. Maafkan aku karena telah mengabaikanmu. Maafkan kata-kata ku yang kasar padamu.Mianhae.. kembalilah jangan pergi seperti ini, aku tidak bisa hidup tanpamu! Yuri-ya BANGUN!!” Sooyoung meluapkan emosi dan rasa sedihnya sambil tetap memeluk Yuri.

End Flashback

“Mianhae.. aku telah menyakitimu dihari itu.” Sooyoung meneteskan airmatanya karena teringat dengan kejadian 1 tahun yang lalu. satu tahun Yuri telah meninggalkannya. Betapa kosong hidupnya tanpa Yuri. Dia benar-benar kehilangan Yuri. Dan dia juga tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri karena telah menyakiti Yuri di hari terakhirnya. Hari ini adalah tepat 1 tahun kematian Yuri, ia pun bersiap-siap untuk pergi ke makam Yuri. Sebelum ke makam Yuri ia mampir ke toko bunga untuk membeli bunga kesukaan Yuri. Ketika ia hendak keluar dari toko bunga tersebut..

‘Bump’

Sooyoung tidak sengaja menambrak seorang wanita hingga wanita itu terjatuh.

“Ya! Apa kau buta hah?” Protes wanita yang terjatuh itu. Wanita itu pun menengadahkan kepalanya ke arah Sooyoung. ‘Omo! Dia sangat cute’ pikir wanita it, ketika ia melihat wajah Sooyoung.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Sooyoung sambil mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri. Wanita itu pun menyambut uluran tangan Sooyoung dan mulai beridiri.

“Oh.. ak..aku baik-baik saja.” Jawab wanita itu.

“Ah maaf maaf aku tak sengaja menabrakmu, aku tidak memperhatikan jalanku. Kurasa aku memang buta.” Ucap Sooyoung karena merasa bersalah.

“Tidak apa-apa, itu hanya sebuah kecelakaan kecil saja.” Ucap wanita itu sambil memberikan eye-smile pada Sooyoung.

“Baiklah kalau kau tidak apa-apa.” Ucap Sooyoung lalu meningggalkan wanita itu. Wanita itu hanya terdiam sambil terus tersenyum memandangi sosok Sooyoung yang telah beranjak pergi.

“Dia cantik, tapi kenapa dengan pakaiannya itu? Semuanya berwarna pink! Itu sangat mengganggu pemandanganku.” Gumam Sooyoung.

[Teaser] That Girl..

THAT-GIRL poster

Author  : SooCobyDoo

Cast     : Choi Sooyoung (Man), Tiffany Hwang, Kwon Yuri

————————————————————————————————————————

***

Aku melihatnya lagi, kali ini ia sedang duduk di sebuah bangku taman dan ia terlihat sangat menikmati suasana taman tersebut. Suara gemericik air mancur, kicauan burung-burung, hembusan angin yang menerpa bunga-bunga di sekeliling taman itu. Dia selalu terlihat cantik. Aku pun mencoba untuk melangkahkan kakiku untuk mendekat padanya, ketika aku telah berada di dekatnya, aku pun memberanikan diriku untuk memulai percakapan dengannya.

“Suasana yang sangat menenangkan hati, bukan?” ucap ku.

Wanita itu pun menoleh kan wajahnya ke arah ku, begitu cantik kulihat wajahnya seolah-olah waktu berhenti ketika mataku bertemu dengan matanya. Dan ia hanya tersenyum menjawab ucapanku. Senyumnya membuatku seolah-olah berada di surga, malaikat ini tersenyum padaku dan kedamaian pun menyelimuti hati ku.

“Kau begitu cantik..” Gumam ku, ia pun masih tersenyum kepadaku. “Kita sering bertemu namun kau selalu terlihat cantik.. tuhan begitu baik selalu mempertemukan ku denganmu, dan entah mengapa setiap aku melihatmu aku merasa nyaman dan bahagia, sebenarnya..

..Siapakah dirimu?”

“Aku…”